Membesarkan Anak Milenial

emma-frances-logan-356717Seorang ibu negara sekelas Hillary Clinton pun tak bisa membesarkan anak milenial seorang diri.

Tahun 1996, Hillary Clinton pernah merilis buku “It Takes a Village: And Other Lessons Children Teach Us”.  

Buku itu membahas bahwa membesarkan seorang anak milenial tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan bekerja sama, terbuka dengan banyak pihak.

Chelsea Clinton, putri tunggalnya lahir tahun 1980.  Buku tersebut dirilis tahun 1996, saat suaminya Bill Clinton menjabat sebagai presiden negara adikuasa USA. 

Tulisan wanita berpengaruh ini diikuti munculnya berbagai studi lainnya, yang kemudian memberi warna lain dalam parenting style. 

Antara lain pemahaman bahwa tidak ada satu pakem, aturan main, pola standar yang berhasil bagi semua anak.

Setiap anak adalah unik, dan karenanya orangtua harus paham bahwa ‘one size fits all parenting’ sudah tidak berlaku lagi.

Mungkin ada anak-anak yang berhasil dengan pendekatan Tiger Mom ala Amy Chua yang sempat ramai dibicarakan di tahun 2011.

Tapi kini, bahkan Gallup, organisasi dunia yang terkenal dengan kekuatan data base-nya sehingga dapat memprediksi talents dan trends, kini juga mulai memasuki ranah parenting melalui buku ‘Strengh-Based Parenting’ yang ditulis Don Clifton, penemu Clifton Strength’s Finder.

Seorang yang berhasil dalam karirnya dengan pola didik orangtuanya di masa lalu, dengan pendekatan yang sama, tidak otomatis akan menghasilkan anak dengan tingkat keberhasilan serupa.

Parents, tak ada pola yang pasti.

Setiap generasi memiliki masanya sendiri, sehingga pemikirannya akan relevan di era mereka lahir, tumbuh, berkembang dan mendominasi.

Karena cara berpikir yang berbeda, maka sangat mungkin terjadi perbedaan pendapat antar generasi dalam cara pandang terhadap banyak hal, terutama soal karier.

Tentu akan timbul frustrasi ketika satu generasi mencoba memberikan pemahaman kepada generasi lain, yang memang berbeda cara berpikir dan berkembangnya.

Saya sendiri memilih untuk berhati-hati dan tidak terlalu menggunakan pendekatan yang dimulai dengan kata ‘jaman mama dulu..’ pada anak saya. Please deh.

Ketika kita membuka diri dan mengakui bahwa setiap generasi memang berbeda, dan mau saling belajar, saat itu lah leverage terjadi.

Perbedaan yang ada justru bisa dilihat sebagai berkah, karena bisa menjadi jembatan untuk memperkaya perspektif satu sama lain.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s