Keluarga, Benteng yang Menunjang, atau Benteng yang Menghalang?

Konflik dalam perbedaan passion biasanya terjadi dalam ruang pertama, terutama, terkecil dan terpenting dalam kehidupan manusia yaitu dalam keluarga.

Keluarga adalah satuan sosial yang sangat sakral sehingga apapun yang terjadi dalam keluarga tidak bisa diintervensi pihak luar secara sembarangan, atau tanpa diundang.

Negara bisa intervensi jika kasusnya merupakan pemukulan dan pelecehan yang terjadi dalam keluarga.

Namun bila situasinya frustrasi karena perbedaan cita-cita atau pemahaman akan masa depan anak, maka tidak ada hukum formal yang mengatur dan  hukum tidak akan bisa melakukan intervensi.

Semua harus bermulai dari keluarga itu sendiri.

Wajar apabila orang tua frustasi saat menyadari sang anak tidak mau meneruskan jejak yang disiapkan untuk masa depannya.

Wajar apabila anak merasa frustasi ketika menyadari orang tua yang tak mau mengerti. 

Wajar kedua pihak senantiasa tidak mencapai kata sepakat walau mereka hanya tidur dan tinggal berbeda kamar dan tingkat.

Wajar bila pola ini akhirnya diulangi pada generasi berikutnya karena sang anak yang sudah menjadi orang tua juga akan mengambil langkah yang kurang lebih sama.

Bisa jadi karena mereka frustasi akibat mimpi yang tidak tercapai dimasa lalu.

Bisa juga karena dia akhirnya mulai percaya bahwa cara yang diterapkan orang tua-nya lah yang terbaik bagi dirinya dan anaknya nanti.

Wajar bila ini seakan tidak berakhir dimana-mana dalam suatu keluarga.

Keluarga bisa menjadi benteng yang menunjang atau malah menjadi benteng yang menghalang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s