Learn, Unlearn, Relearn

Banyak profesi tak dibutuhkan lagi karena tergantikan teknologi.

Banyak perusahaan besar yang tutup dan menyerah karena tak dapat beradaptasi mengikuti pergerakan zaman.

Bahkan, tak sedikit teori yang tumbang dalam hitungan tahun.

Semua bergerak cepat. Apakah kita bisa tetap memakai cara dan pendekatan yang sama dari tahun ke tahun untuk mengimbanginya?

Kami rasa, tidak.

Dalam sebuah perbincangan seru dengan Bapak Josef Bataona, kami diingatkan kembali dengan konsep learn, unlearn, dan relearn. 

“Quote Alvin Toffler ini sebetulnya sudah lama diutarakan namun masih relevan sampai sekarang,” kata Pak Josef. 

Karena tiga hal itu lah yang dapat dijadikan sebagai senjata utama dari segala generasi. 

Baik untuk mereka yang sudah ada di ‘pentas’, atau sedang mempersiapkan untuk tampil ke ‘pentas’. 

“Karena kita tidak pernah tahu, berapa lama ilmu yang kita pelajari ini akan bertahan.” 

Ya, ada saja ilmu yang sudah outdated bahkan sebelum kita selesai mempelajari ilmu tersebut.

Karena sudah outdated, maka kita akan relearn hal lain lagi.

 

“Jadi menurut saya, memang selalu ditanamkan di kepala manusia bahwa ilmu itu memang dihadirkan karena certain purpose.”

Ilmu yang kita miliki memang untuk hari ini, atau kemarin, karena ilmunya harus itu. Tapi, besok, bisa saja kita butuh ilmu yang berbeda.

Kasus yang muncul, bisa sama. Tapi belum tentu kita harus pake tool yang sama untuk itu.

Nah tool yang untuk besok itu bagaimana?

Open yourself untuk belajar. Seperti kalau kamu bertemu orang nanti sore lalu kamu bercerita tentang sesuatu, itu adalah kuncinya. Kamu tidak harus belajar dari seorang ahli seperti konsultan, tapi bisa saja hanya dari sekeliling, karena itu sudah disiapkan universe. ” 

Ya, seperti kata Pak Josef, kita harus peka dan mau membuka diri.

Karena jika tidak, kesempatan itu akan lewat begitu saja.

Kalau kita menunggu, belum tentu yang sama ini akan muncul lagi.

Bahkan mungkin kita akan kehilangan suatu momentum yang harusnya kita bisa pakai tool itu tapi terlewat karena sudah tidak punya kesempatan mempelajarinya. 

Apapun yang hadir pada kita, sudah seharusnya, sudah disediakan untuk kita, certain purpose.

Maukah kita lebih peka?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s