Full Body Glove

Dalam forum pertemuan orang tua murid dan guru, secara berulang saya sering menemukan kisah lucu, tapi membuat miris.

Beberapa diantaranya, saya alami saat putri saya Kezia menjalani pendidikannya di SMP.

Saya kira, saya tak akan menemuinya lagi. Tapi ternyata, saat dia di SMA, saya menemui kejadian itu lagi. 

Dari sekian forum yang saya hadiri, tampaknya cukup banyak orang tua – umumnya ibu-ibu – yang tanpa sadar mengambil alih peran belajar informal sang anak dalam nama ‘melindungi kepentingan anak saya’.

‘Bu guru, tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak anak saya jadi sulit membagi waktu.’ #loh?

‘Pak kenapa anak-anak kelas I tidak diperlakukan dengan ramah oleh kakak-kakak kelasnya’ #eh

‘Bapak-ibu guru, kalau begini kondisinya kami para orang tua akan menanda-tangani petisi agar anak-anak kami diperlakukan dengan lebih adil’ #nahlo

Sejak putri saya memasuki masa remaja, saya memilih untuk memantau dari jauh proses belajar-mengajar yang berjalan. Sebisa mungkin, saya hadir dalam kegiatan dan pertemuan penting di sela-sela kesibukan berkarir.

Bagi saya dan sejumlah orang tua lain yang sepaham, segala aturan, kegiatan dan sejumlah ‘tradisi’ yang ada merupakan training ground bagi mereka untuk mempersiapkan diri sebelum terjun ke dunia nyata nantinya – bekerja, bermasyarakat dan menjalankan sejumlah peran sosial.

Masuk terlalu jauh dalam keseharian proses belajar anak, terutama saat mereka sudah remaja, ibarat mengikutsertakannya dalam pertandingan sepak bola. 

Namun demi ‘melindungi’nya kita memakaikan proteksi tubuh yang berlebihan.

Hasilnya, tentu sang anak akan sulit bergerak, tidak lincah, dan mudah dilumpuhkan lawan.

Karena anak perlu mengalami bagaimana rasanya jatuh, terluka sedikit, bahkan kalah.

Dari situ, mereka akan belajar cara-cara untuk bangkit, mengobati lukanya dan mengalami perasaan sukacita karena mampu survive.

Parents, let’s give our children some space.

Mari berdiri di pinggir lapangan, biarkan mereka bermain dan mengekspresikan diri.

Mereka perlu tepuk tangan dan teriakan semangat. Tapi kita perlu memberikan ruang gerak. 

Karena saat mereka masuk ke dunia nyata nantinya, kita tidak akan selalu ada di sana untuk mereka. 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s