When in Doubt: Emulate!

Jos Luhukay, mantan boss dan salah seorang mentor saya, adalah orang yang pertama kali  memperkenalkan kata ’emulate’, dalam beberapa kesempatan.

Saya ingat pertama kali mengenal ’emulate’ dalam salah satu leaders forum, ketika berbagi sejumlah tips personal management.

Pada sesi itu beliau berbagi strategi sukses dalam berbagai aspek kehidupan – dalam karir, keluarga, bermasyarakat.

Emulate berasal dari istilah ‘emulation learning’ – proses belajar dengan cara mengamati, mengobservasi berbagai hal di sekitar kita dan memanfaatkannya untuk pencapaian tujuan tertentu.

Hal ini diterapkan Pak Jos dalam berbagai fase karirnya, terutama tiap kali memasuki lingkungan baru.

Kata beliau, kita bisa belajar dari orang-orang tertentu, umumnya tokoh senior dalam lingkungan tersebut. Kita bisa mengamati cara mereka bertingkah-laku, berbicara, dan menyelesaikan masalah.

Biasanya, apa yang kita amati, kelak akan menjadi referensi yang sangat berguna untuk bisa ‘survive’ saat berinteraksi di lingkungan tersebut. 

Lucunya, dan mungkin saking inspiring-nya sesi tersebut, saat itu juga saya putuskan untuk menerapkan emulation learning terhadap Pak Jos.

Satu hal yang saya amati dari Pak Jos adalah bagaimana beliau living his values, menjalankan prinsip continuous learning yang selalu disebarkannya.

Di sejumlah komunitas, Pak Jos dikenal sebagai ‘nara sumber’ yang selalu senang berbagi pengetahuan.

Beliau senang berbagi informasi dan pengetahuan kepada wartawan dari berbagai media, bukan hanya saat konferensi pers, melainkan saat ngopi santai. 

Kepada karyawan pun demikian. Jadi, saya dan teman-teman dari direktorat yang dibawahi Pak Jos, dapat menimba ilmu dengan puas. 

Di luar pembahasan mengenai pekerjaan, Pak Jos kerap berbagi banyak hal. Apa saja.

Misalnya teknologi perbankan terbaru di belahan dunia lain, pemahaman atas sejumlah kasus yang mencuat di media massa, atau sekedar tentang interaksinya dengan kedua putra-putrinya.

Emulation menjadi bagian dari proses adaptasi saya selanjutnya. Mengamati sekeliling kita sungguh merupakan cara mudah dan murah untuk belajar dan mempersiapkan diri kita berinteraksi dengan sekeliling.

Tapi, saat ini gadget yang tak pernah lepas dari tangan kita selalu menyita perhatian dan otomatis ‘memutuskan’ perhatian kita akan sekitar.

Mulai sekarang, saat antri di ruang tunggu dokter, atau terutama ketika menunggu panggilan wawancara kerja, perhatikan sekitar.

Saat masuk ke kantor baru jangan pakai headset  dan melulu mendengarkan musik.

Kalau nonton tv coba pelajari cara berbicara news anchor yang keren dan lugas.

Lihat sekeliling. Kenali ekspresi yang muncul, jokes yang beredar, orang-orang yang berpengaruh di sana. Alami banyak insights dan hal tersebut suatu saat pasti berguna. 

Coba deh!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s