‘Learning to Love Yourself is The Greatest Love of All’

Pernah mendengar lagu dengan judul di atas?

Meski usia lagu itu sudah lebih dari tiga dekade, tetapi rasanya sampai hari ini masih tetap enak didengar dan sering jadi lagu andalan saat kompetisi menyanyi.  

Lagu The Greatest Love of All ditulis oleh Michael Masser dan Linda Creed, direkam pada 1977 sebagai bagian dari film Muhammad Ali, The Greatest.

Dipopulerkan oleh Whitney Houston, lagu ini memenangkan berbagai penghargaan. 

Tapi tak banyak yang tahu kisah sedih di balik lagu ini.

Linda Creed menulis liriknya di tengah pergumulannya melawan kanker payudara. 

Tak heran bila disimak liriknya begitu menyentuh, mengajarkan kita untuk kuat menghadapi berbagai tantangan besar dalam hidup.

Bagi saya, lirik lagu ini yang sangat bermakna dan kerap menguatkan dalam lowest points in life khususnya pada bagian berikut:

Everybody’s searching for a hero
People need someone to look up to
I never found anyone who fulfilled my needs
A lonely place to be
And so I learned to depend on me

I decided long ago
Never to walk in anyone’s shadow
If I fail, if I succeed
At least I’ll live as I believe
No matter what they take from me
They can’t take away my dignity

Sengaja inspirasi dari lagu ini saya angkat sebagai ‘pintu masuk’ membahas passion dalam artikel ini. 

Ditinggal figur ayah yang dipanggil pulang Yang Kuasa saat berusia 5 tahun, kenyataan ini masih kerap membuat saya berurai air mata.

Baru berpuluh tahun kemudian saya bisa menerima dan beroleh insight bahwa Tuhan mengizinkan ini terjadi dan menjadikannya sumber kekuatan sehingga saya tidak gampang menyerah.

Ada banyak kejadian dalam hidup ini bila saya tidak ‘ngotot’ dan mengambil keputusan sebagai hasil dari ‘.. and so I learned to depend on me’ seperti lirik lagu di atas, mungkin ceritanya tidak seperti yang saya jalani sekarang.

Dalam hidup ini hanya segelintir orang yang kelihatannya tidak memiliki keterbatasan. Sisanya, ya kita-kita ini yang harus berjuang meraih mimpi-mimpinya.

Sayangnya seringkali kita hanya berkutat di tahap mimpi. Itu pun banyak didiskon dengan rasa minder dan tidak pede.

Pesan moralnya sederhana. Sebelum bicara punya passion ini dan itu, terinspirasi tokoh A dan B, bicara dulu dengan diri sendiri.

Kenali apa yang membuat Anda bersemangat, tergugah, berapi-api, bahagia – bahkan saat hanya memikirkannya.

Bayangkan saat hal tersebut dapat Anda lakukan – wouldn’t it the greatest feelings ever?

Sukses atau tidaknya kita, biarlah ukurannya kita sendiri yang menentukan. Bukan jumlah uang yang kita miliki, atau deretan gelar di kartu nama.

Enyahkan pikiran ‘apa kata orang’ karena ini adalah musuh terbesar yang justru harus dibuang jauh-jauh.

Talk to yourself. Get to know who you are inside. To know you is to love you.

Dan seperti dalam lagu di atas, learning to love yourself is the greatest love of all.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s