Beda Generasi, Beda Cara, Beda Rasa

Banyak orang mengeluhkan gaya generasi milenial di tempat kerja.

Bahkan, beberapa saat sebelum meninggalkan dunia korporasi di tahun 2015 lalu, saya masih mengalami sejumlah kejadian yang bikin senyum-senyum sendiri, terkait urusan beda generasi beda gaya ini.

Saat itu, salah seorang Senior Advisor, mengeluh perihal ‘anak-anak sekarang’  yang tidak lagi loyal seperti di masa beliau muda.  Dari job title-nya, jelas beliau yang Baby Boomers.

Saya cari tahu, apa maksud beliau, kejadian apa yang memicu hal ini.

Ternyata sederhana sekali. Terutama karena dalam perjalanan karir saya mengalami dipimpin langsung dan bekerja sama dengan sejumlah atasan dari generasi ini.

Bagi mereka, loyalitas adalah currency yang penting, ditunjukkan dengan masa kerja yang panjang, kesediaan bekerja ‘ekstra’ dengan hadir di luar jam kerja, bahkan akhir minggu.

Ingat lho, ketentuan 5 hari kerja di Indonesia baru mulai dipraktekkan kira-kira di akhir tahun 90-an.

Saya masih mengalami 6 hari kerja dalam seminggu. Saya masih mengalaminya senangnya bisa pulang jam 12 siang di hari Sabtu.

Ironi terjadi ketika sang Senior Advisor membutuhkan follow-up dari salah satu tim yang kebetulan didominasi Gen-Y.

Beberapa kali ia turun ke lokasi kerja tim ini, dan seringnya ia lakukan di sore hari saat jam kerja telah usai. Yang ia temukan di sana: tidak ada satu pun di antara tim yang masih berada di sana.

Apakah para Gen-X ini salah?

Dalam perspektif mereka tentu tidak, karena saklek dan apa adanya merupakan nilai yang mereka anut.

Jam kerja adalah pukul 09:00-17:00, kecuali ada pemberitahuan sebelumnya.

Namun inilah yang dalam perspektif sang Baby Boomers menjadikan mereka ‘tidak loyal’.

Saya tersenyum saat menuliskan ini, karena mengalami masa-masa punya boss dari generasi Baby Boomers. Boro-boro berani pulang kalau boss masih ada dalam ruangan.

Itu baru satu contoh di dunia kerja.

Bagaimana di rumah? Tak kalah seru tentunya.

Ada masanya dulu, lebih mudah bagi saya memanggil anak saya keluar dari kamarnya dan muncul di meja makan dengan mention dia di Twitter, ketimbang suara habis memanggilnya. 

Karena di masa-masa tersebut, sang anak tidak lepas dari earphone di telinga, bahkan sambil belajar.

Gen-X kayak saya, mungkin enggak pernah terpikir bagaimana hal itu bisa dilakukan, tapi itulah kenyataannya.

Masalah teknologi juga tentu semakin seru untuk dibahas.

Saya sering memberi analogi saat mencoba menjelaskan mekanisme di balik Facebook pada ibu saya yang berusia 72 tahun. What a challenge!

Sebaliknya, keponakan saya yang masih balita tanpa perlu bersusah-susah mengajari, tiba-tiba sudah pintar pilih-pilih sendiri video animasi favoritnya di YouTube.

Kita bisa berbicara panjang lebar multi-dimensi tentang perbedaan generasi ini.

Makanya tak heran, apabila perbedaan pendapat mengenai cara bekerja, bidang studi hingga karir, bahkan pilihan untuk bekerja di korporasi atau merintis start-up, bahkan freelancing semakin hari semakin menjadi topik hangat.

Bagi saya ketika kita membahas generations gap, justru akan memperuncing perbedaan yang ada.

Mari tidak berhenti di titik ini, namun justru mengkombinasikan kekuatan dari masing-masing generasi.

Instead of stopping at the Generations Gap, let’s move on to Generations Leverage.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s