Melepas Ego, Membebaskan Pilihan

Ada profesi-profesi yang dulu dianggap sebatas hobi, kini betul-betul bisa menghasilkan uang, bahkan popularitas. 

Tapi, masih banyak juga orang tua yang menutup mata dan hati, meski si anak sudah menunjukkan minat dan bakat sejak dini.

Saya punya kisah sedih yang untungnya tidak berkepanjangan, walaupun cukup merugikan waktu sang anak.

Salah seorang teman kecil putri saya, sebut saja namanya Nathan. Saya mengenalnya langsung.

Saya dan banyak teman -para orang tua lainnya-, sepakat bahwa Nathan senang dan pintar memasak.

Ia sering membawa hasil masakannya dalam berbagai kesempatan.

Putri saya Kezia sering dibekali oleh-oleh kue kering hasil eksperimennya, yang memang enak. Sagu keju, chocolate chip cookies, you name it.

Dibuat oleh seorang anak lelaki kecil, yang lebih memilih berkutat di dapur bereksperimen membuat kue, ketimbang bermain bola bersama teman-temannya.

Saat Nathan ingin melanjutkan pendidikan di Sekolah Kejuruan, orang tua tak sepakat.

Menurut Nathan, ia ingin masuk Sekolah Kejuruan, karena sudah menetapkan cita-citanya menjadi Chef.

Ketika kita memakai kacamata pemahaman dengan kondisi kerja saat ini, jelas Nathan adalah anak yang sudah punya self awareness tinggi sejak kecil.

Ia senang memasak, dan karenanya ia ingin sekolah di jalurnya untuk kemudian menjadi Chef.

Tapi menurut orang tua Nathan, memasak bukanlah profesi dan sebaiknya tetap menjadi hobi.

Profesi Chef kurang dipandang ‘sesuai’ oleh orangtua untuk masa depan Nathan. Ia tidak boleh masuk sekolah kejuruan supaya nanti punya pilihan lebih luas untuk bidang kuliahnya.

Nathan akhirnya sekolah di SMA. Saat lulus, Nathan tetap konsisten dengan keinginannya menjadi Chef. 

Tidak ada satu bidang pun di luar itu yang menarik minatnya.

Masalah mulai meruncing. Perbedaan pendapat tak bisa ditengahi. Nathan berkeras dan memilih diam tanpa melanjutkan sekolah demi menunjukkan pada orangtuanya bahwa keinginannya memang sudah bulat.

Satu tahun terlewati.

Orang tua Nathan akhirnya menyerah.

Sejumlah kerabat akhirnya berhasil membuka mata mereka bahwa menjadi Chef saat ini merupakan salah satu profesi yang prospektif dengan semakin maraknya industri Horeca (hotel, restaurant & cafe).

Kini Nathan sudah menjalani tahun terakhirnya di Sekolah Tinggi Pariwisata, merintis langkahnya mewujudkan cita-cita menjadi seorang Chef seperti yang telah ditunjukkannya sejak kecil.

Familiar dengan kisah diatas? Pasti.

Karena kami pun banyak menemukan kisah sejenis.

Semoga kisah Nathan ini bisa kita hindari di kemudian hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s