‘The Million Dollar Question’

Sudah lama saya berkecimpung di dunia sumber daya manusia. Sejak bekerja di perusahaan, hingga kini menjadi fasilitator di berbagai kesempatan.

Saya sering sekali bertemu dengan anak muda. Dari semua interaksi yang saya lakukan dengan mereka, ada satu topik yang selalu dipertanyakan: “Mau jadi apa saya nanti?”

Ketika dielaborasi lebih dalam, biasanya muncul kisah-kisah mereka yang sering membuat ‘miris’.

Mulai dari ketiadaan role model,  hingga keterbatasan informasi dunia kuliah apalagi dunia kerja. Akibatnya, mereka ‘gamang’ akan persiapan yang harus dilakukan.

Anak-anak muda ini juga merasa tak cukup memahami pilihan yang tersedia untuk menentukan masa depan, serta merasa kurang mendapat dukungan orang tua dan lingkungan. Namun dari semua itu, yang paling lazim adalah ‘pilihan dan keputusan’ yang telah ditentukan bagi mereka.

Banyak diantara kita yang kurang beruntung sehingga harus merasakan kondisi-kondisi seperti tersebut di atas. Hasilnya: pilihan karir yang salah, waktu dan talenta yang tersia-sia, peluang yang hilang, hingga berakhir dengan penyesalan.

Umumnya orang tua merasa tahu apa yang terbaik bagi anak-anak mereka. Apa yang sudah mereka jalani, seringkali diterapkan kepada anak. Mereka kadang lupa, zaman tak diam. Apa yang berhasil di masa lalu, belum tentu menjamin keberhasilan masa kini.

Makanya, sering kita dengar curhat semacam ini:

Saya dari dulu ingin menjadi penari namun Ibu saya paranoid tentang dunia show biz dan menyuruh saya kuliah bisnis dan kerja di Bank saja. Benar-benar seperti punya karir yang jelas

Atau mungkin, seperti ini:

Papa saya dokter ya saya kuliah kedokteran karena papa saya yang menyuruh

Suara-suara ini tidak hanya terdengar dari percakapan dengan saya saja. Suara-suara ini tidak terdengar di bangku kuliah saja. Suara ini bisa saja berasal dari kubikal kantor Anda. Suara ini dari mana-mana.

Bahkan bisa saja, ini adalah suara Anda sendiri.

Entah siapa yang menjadi korban dalam cerita cerita ini.

Sang orang tua nampaknya selalu menginginkan anaknya tidak menjadi korban saat menjadi kerja nanti.

Tapi, perlindungan dan pencegahan khas mereka malah menciptakan korban yang sesungguhnya : masa depan putra-putri mereka sendiri.

Di satu sisi saya mencoba memahami posisi dalam sepatu para orang tua, yaitu concern setiap orang tua bahwa mereka menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Mereka ingin anak-anak mereka masuk ke jalur yang pernah mereka lalui sehingga lebih mudah untuk membantu mereka atau anak-anak mereka masuk ke dalam jalur paling empuk dalam perjalanan hidup mereka.

Tidak ada yang salah dengan kehendak-kehendak tersebut.

Namun kehendak tersebut bisa jadi bumerang, muncul dan tumbuh sebagai perbedaan besar antara kedua belah pihak. Meski tujuannya sama, tak ingin anak jadi korban.

Bagaimana anak itu harus hidup dan bekerja nanti?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s